TEA FOR TWO

tea-4-two1 TEA FOR TWO

Bukan Kisah Cinta Cinderella

Izinkan,” Alan berkata lembut, “aku menjadi bilangan primamu. Bilangan prima yang hanya bisa dibagi dengan bilangan itu sendiri atau dibagi dengan angka satu. Angka satu adalah kamu, satu-satunya dan selalu menjadi nomor satu.”

So …sweet!Perempuan mana tak klepek-klepek dibombardir perhatian dalam kalimat puitis seorang pria. Apalagi Alan Nashar (Alan) berwajah tampan, hangat, dan mapan secara financial. Semua ini menjadikan Sassy Karenina (Sassy) yakin menerima lamaran Alan untuk menikah. Ini semua selaras dengan dunia Sassy yang penuh warna cinta.

Sassy adalah perempuan modern, lulusan universitas terkenal, dan memilki perusahaan mak comblang sekaligus wedding organizer. Tak ada tanggung jawab kebahagian yang lebih besar bagi Sassy daripada mempertemukan dua orang yang saling tak mengenal, menjodohkan hingga menggiring mereka hingga menuju kehidupan pernikahan.

Cinta pandangan pertama yang tak bertepuk sebelah tangan. Kisah mereka berlanjut hingga ke pelaminan 8 kemudian. Namun, kisah mereka bukan dongeng masa kecil yang berakhir dengan pernikahan putri dan pangeran yang bahagia selamanya.

Dimulai tepat pada hari kedua bulan madu mereka di Bali, Alan menampar Sassy. Alan cemburu melihat Sassy mengobrol akrab dengan pria bule di kolam renang hotel mereka. Meski kaget, Sassy menerima permintaan maaf dan janji Alan untuk tak mengulanginya.

Namun, Alan semakin merajalela. Ia membatasi hubungan Sassy dengan ketiga sahabatnya, Rose, Carmanita, dan naya. Ia juga menyuruh Sassy menjual perusahaan hingga mengatur potongan rambut dan penampilan Sassy.

Makian dan siksaan fisik mengisi kehidupan perkawinan Sassy. Mata Alan yang walanya jenaka menggoda bisa berubahmenjadi dingin. Sikap yang semula ramah berubah jadi bermulut tajam. Gaya kontradiksi alan selalu berlandaskan rasa saying yang diiyakan Sassy dengan sikap mengalah. Atau lebih tepatnya, Sassy percaya Alan mencintainya. Digabungkan dengan rasa takut kehilangan, dan kehamilan membuat Sassy enggan bercerai.

Namun, harapan Sassy sia-sia. Kehamilan tak membuat sikap Alan berubah serta berupaya menjadi calon ayah yang baik. Kehadiran Emma, nama putrinya, tak mengubah Alan. Bahkan Alan berani ketahuan berselingkuh dengan temannya.

Intinya, penulis ingin menyampaikan bahwa pernikahan tak selalu menjamin kebahagiaan. Justru kadang bisa menjadi tembok derita bernama kekerasan dalam rumah tangga (KDRT).

Secara keseluruhan, Tea For Two menyajikan jalan cerita renyah dan mengalir. Termasuk kesetiakawanan empat perempuan metropolis lengkap dengan dunia khasnya. Pembaca bisa terperinci jalan cerita karena pikiran dan kilas balik peristiwa yang dialami Sassy tertulis dalan font Arial, berbeda jenis dengan dengan jalan cerita utama yang tertuang dalam Time New Roman.

Buku ini merupakan karya ke-11 Clara NG. Tulisan jebolan Ohio State University Jurusan Interpersonal Communication ini banyak membahas soal perempuan, keluarga, dan cita.

Judul : TEA FOR TWO

Pengarang: Clara NG

Penerbit: Gramedia Pustaka Utama

Edisi: 1 – Februari2009

Tebal: 312 halaman

Source : Koran Tempo, 5 April 2009

Comments are closed.

%d bloggers like this: