ANGSA HITAM

blackswanANGSA HITAM

YANG MENGOLOK-OLOK SI PEMBUAL

Siapa menyangka ada orang membajak pesawat sipil dan menabrakkan pesawat itu ke gedung pencakar langit World Trade Center, New York? Rasanya tak ada. Namun kejadian pada 11 September 2001 itu membuktikkan bahwa ternyata memang ada orang yang memikirkan skenario edan seperti itu. Mnegejutkan, dan inilah si angsa hitam yang ditemukan di tengah anggapan semua orang bahwa seluruh angsa di jagat ini berwarna putih.

Judul karya Nassim ini, The Black Swan, sudah mengusik: mana ada angsa berwarna hitam?Di sepanjang usia kita, karena pengalaman hidup berpuluh tahu, kita berfikir bahwa angsa berwarna putih. Ketika angsa hitam ditemukan, buyarlah seluruh konsepsi tentang angsa yang ada dalam benak anda.

Logika angsa hitam menjadikan yang tidak kita ketahui jauh lebih relevan dari pada yang kita ketahui. Banyak peristiwa angsa hitam dapat terjadi dan berakibat lebih buruk sebab tidak diduga. Contohnya, seandainya peristiwa tsunami Desember 2004 telah diperkirakan, peristiwa itu mungkin tidak akan mnyebabkan kematian sebanyak seperti yang telah terjadi, sistem peringatan dini difungsikan, penduduk lebih cepat diungsikan.

Angsa hitam adalah peristiwa dengan tiga sifat. Pertama, peristiwa itu lain dari yang lain, sesuatu di luar dunia seperti yang biasa kita harapkan, karena tak ada sesuatu pun di masa lampau yang dapat secara menyakinkan menunjukkan kepada keyakinan itu. Kedua, peristiwa itu memiliki dampakyan ekstrem. Ketiga, kendati lain dari yang lain, sifat dasar manusia mendorong kita membuat penjelasan-penjelasan atas peristiwa itu sesuadah terjadi, menjadikannya tampak dapat diterangkan dan diperkirakan.

Perpaduan antara prediktabilitas yang rendah dan dampak yang besar menjadikan Angsa Hitam teka-teki yang dasyat. Namun, bukan ini pokok bahasan utama karya Nassim. Gagasan pokok buku ini berkaitan dengan kebutaan kita ketika berhadapan dengan keacakan, khususnya untuk deviasi-deviasi yang besar. Betapa kita terfokus kepada yang normal dan yang masuk akal, serta mengabaikan yang tidak lazim dan luar biasa. Buku ini menarik, sebab berbicara tentang ketidakpastian (uncertainty)

Minat Nassim pada pnegetahuan tentang ketidakpastian berawal setelah dia belajar di Wharton, sekolah bisnis terkemuka di dunia. Ia mengembangkan keahlian khusus yang aneh: menebak peristiwa langka dan tak terduga, yakni peristiwa-peristiwa yang berada di lipatan platonic, dan dianggap “tidak dapat dipahami” oleh pakar-pakar Platonik. Lipatan Platonik adalah tempat dimana penggambaran kita tentang realitas tidak berlaku lagi, tetapi kita tidak menyadarinya.

Nassim memberi contoh kisah sukses Yevgenia Nikolayevna Krasnova. Pelopor aliran Con silient ini membutuhkan waktu 5 tahun untuk berubah dari novelis tak ternama menjadi penulis yang karyanya diterjemahkan ke dalam 40 bahasa. Buku Yevgenia, kata Nassim adalah Angsa Hitam. Kemunculan Yevgenia dari tempat yang sangat tersembunyi dari seorang bintang hanya dimungkinkan oleh sebuah lingkungan atau tempat yang disebut oleh Nassim sebagai Extrimistan, yang dihuni oleh penggiat intelektual, ilmiah, dan artistic. Wilayah ini terletak berseberangan dengan Mediocristan (wilayah yang tenang, tentram, tanpa gejolak atau kejutan.

Dalam buku yang serius , dan diceritakan dengan amat menarik ini, Nassim tidak menyembunyikan keusilannya sebagaimana ia sehari-harinya. Nyaris di sepanjang buku ini, Nassim mengolok-ngolok mereka yang yankin betul akan pengetahuannya dan berbicara begitu menyakinkan dengan mengandalkan pengamatan mereka tasa hal-hal yang kerap terjadi, dan bahkan berani meramalkan apa yang akan teerjadi di masa depan. Termasuk mengkritik pedas ekonom yang memakai metematika untuk untuk meramalkan masa depan kemakmuran dan memuji Friedrich Hayek. Sebagai guru besar dalam ilmu ketidakpastian, keacakan, dan keberuntungan. Nassim menunjukkan bahwa menuju masa depan yang tepat adalah kemustahilan.

Kita dapat melihat Angsa Hitam, kata Nassim, dan kita cemas tentang hal-hal yang terjadi, bukan hal-hal yang mungkin terjadi tetapi belum terjadi. Itu sebabnya kita melakukan Platonifikasi, menyukai skema-skema yang telah diketahui dan pengetahuan yang tertata baik, sampai ketingkat kebutaan terhadap realitas.

Begitulah, entah kenapa Nassim sudah piawai soal Angsa Hitam, bukunya Fooled by Randomness, yang terbit satu pekan sebelum 11 September 2001, telah membahas kemungkinan sebuah pesawat jatuh menimpa gedung kantornya. Lantaran itu, ia diminta oleh para wartawan untuk memberikan daftar peristiwa heboh yang akan terjdi di masa yang akan datang dan menunjukkan “bagaimana saya meramalkan peristiwa itu”.

Apa jawab Nassim?”Saya tidak meramalkannya, itu sebuah peristiwa kebetulan. Saya bukan dukun klenik!”

Well, karya Nassim ini sungguh provokatif dan mencerahkan.

Judul : THE BLACK SWAN

Penulis : Nassim Nicholas Taleb

Penerbit : Gramedia Pustaka Utama

Edisi : 1. 2009

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: