The Legend Of Musashi

Saya rasa, hampir semua pecinta beladiri, terutama beladiri Jepang, kenal dengan nama Musashi, sebagian besar mungkin membaca dari komik, menonton film, ataupun membaca novel Best Seller karya Yoshikawa Eiji.

musashiSalah satu “kelebihan” buku ini dibanding sumber-sumber yang selama ini kita tahu (tepatnya: apa yang saya tahu selama ini), adalah bahwa buku ini mengungkapkan fakta, yang mungkin jauh dari isi Novel Yoshikawa Eiji yang penuh dengan fiksi, ataupun komik-komik dan film-film yang pernah dibuat selama ini.

Buku ini mengungkap mulai dari masa kecil Musashi (yang pada masa kecilnya bernama Bennosuke), bagaimana dia bisa tinggal terpisah dari orang tuanya– terutama sang ayah; Munisai, teori-teori bagaimana dia bisa begitu kuat hingga bisa membunuh seorang Samurai dewasa ketika dia masih berumur 13 tahun, masa awal pengembaraannya- sebelum akhirnya terdampar di Sekigahara, dan lain sebagainya.

Kita juga bisa mengetahui bagaimana masa-masa Musashi ketika menginjak usia 30 ke atas, yang penuh dengan karya seni yang tidak dibayangkan bisa dihasilkan oleh seorang yang mencurahkan hidupnya untuk belajar ilmu pedang. Bagaimana dia bisa menjadi seorang pengatur taman, perancang kota, penulis syair, pelukis, dan juga pemain drama Noh yang begitu bercita rasa seni.

Satu kesimpulan yang saya ambil dari buku ini, bahwa teknik Gaya Dua Pedang Musashi baru mengalami suatu pengembangan yang pasti ketika dia sudah menginjak usia diatas 30. Jadi ketika masa hidupnya diceritakan dalam Novel Yoshikawa Eiji, teknik Dua Pedangnya belum mencapai tingkat yang bisa dibilang puncak.

Selain itu, mengapa Musashi begitu terkenal dan begitu melegenda, bukanlah hanya karena keahliannya dalam bermain pedang, tetapi karena intelektualitas dan bakat alaminya yang begitu hebat dalam segala seni, dan juga kemantapan mental dan sikapnya dalam mendalami Zen dan Budhisme.

Seperti kita ketahui, setelah umur 30an, dia hampir tidak pernah menggunakan pedang sungguhan, hanya menggunakan pedang kayu, dan Musashi juga hampir tidak pernah membunuh orang dalam duel-duel yang dilakukannya kemudian. Juga bagaimana dia lebih memilih hidup dalam pengembaraan dari pada menjadi seorang Pejabat Daimyo –yang pastinya penuh dengan harta, kekuasaan dan segala kenyamanan duniawi, seperti yang banyak di inginkan oleh para Ahli pedang jaman itu.

Buku ini juga memaparkan cerita-cerita tentang Musashi dari berbagai sumber, dengan berbagai kontroversi di dalamnya, dan menarik kesimpulan yang kira-kira paling masuk akal, dan memberi gambaran kepada kita, bagaimana pandangan orang-orang terhadap Musashi waktu itu.

Buku ini juga menceritakan banyak tokoh di sekitar Musashi, misal tentang keluarga Yoshioka, sejarah dan perkembangan aliran tersebut sampai dikalahkan oleh Musashi, dan kelanjutan kehidupan mereka setelahnya. Demikian juga dengan Yagyu Munenori dan Shinkage-ryu nya, dan masih banyak lagi, yang akan lebih membuka wawasan kita tentang ilmu beladiri jaman itu.

Pelukisan Jalan Pikiran Orang Jepang

NOVEL ini untuk pertama kali tampil dalam bentuk serial di koran terkemuka Jepang, Asahi Shimbun, pada tahun 1953-1939. Tidak kurang dari 1.009 nomor urutan serial itu. Ini berarti pemuatan setiap hari selama tiga tahu lebih. Yang pernah dimuat sebagai cerita bersambung di harian Kompas dan kini diterbitkan sebagai buku ini bukan terjemahan asli dari bahasa Jepang, terjemahan dari versi Inggris yang tebalnya 970 halaman.

Kisah suskses novel ini memang suatu keajaiban tersendiri. Kisah yang ditulis dengan gaya yang dekat dengan gaya fiksi tradisional Jepang dan juga dekat dengan pikiran umum di sana ternyata sangat mengena. Tidak kurang dari 120 juta eksemplar buku ini terjual. Sudah tujuh kali kisah ini difilmkan dan tidak terhitung banyaknya dialihkan dalam  bentuk drama atau serial mini di televisi.

Versi bahasa Inggris buku ini saja dalam tingga minggu pertama keluar sudah habis 30.000 eksemplar, sehingga penerbit buru-buru menerbitkan cetakan keduanya.

Angka 120 juta di atas memang mengejutkan, mengingat penduduk Jepang sekarang saja hanya berjumlah 110 juta orang. Dari perbandingan angka saja, kita bisa menduga bahwa hampir tak ada orang Jepang yang tak kenal kisah ini, dan orang boleh saja menduga buku ini rasanya turut membentuk watak Jepang modern.

Reischauer menulis, ”Berbeda dengan citra Jepang modern yang dilukiskan sebagai sebuah grup ”binatang ekonomi”, kebanyakan manusia Jepang menganggap dirinya individualistis, sangat memegang prinsip, dan sangat peka akan keindahan. Pokoknya sebagai Musashi modern”

Tadao Sato, kritikus film sekaligus penulis, ”Musashi tampil sebagai antitese terhadap intelektualisme”. Pelukisan jalan pikiran orang Jepang, karena kisah itu berhasil menuntuk mereka melewati ketikpastian selama tahun-tahun pemerintahan jepang menganut paham fasisme.

Melihat komentar-komentar di atas tersebut, bisa dikatakan buku ini merupakan buku penting untuk bisa lebih memahami Jepang yang perannya semakin besar saja di dunia, termasuk di Indonesia.

One Response to “The Legend Of Musashi”

  1. Francisco Mejia Says:

    I would like to know if the picture above is a poster, and if so, where may I purchase one? Thank you.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: